MOMENTUM DAN IMPULS
| Peta konsep momentum dan impuls |
MOMENTUM dan IMPULS
MOMENTUM
Momentum terbagi menjadi tiga sub pokok yaitu, momentum linear, impuls, dan hukum kekekalan momentum.
1. Momentum Linear
Setiap benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu dipastikan memiliki momentum. Besarnya momentum sangat bergantung pada massa dan kecepatan benda. Momentum yang dimiliki suatu benda adalah hasil perkalian antara massa dan kecepatan benda pada saat tertentu.
Persamaan momentum suatu benda yang bermassa m dan bergerak dengan kecepatan v secara matematis dirumuskan sebagai berikut:
P = m.v
Keterangan:
P = momentum benda (kg m/s)
m = massa benda (kg)
v = kecepatan benda (m/s)
Momentum adalah sebuah besaran vektor yang arahnya sama dengan arah kecepatan benda. Isaac Newton mengemukakan hukum gerak yang kedua dikaitkan dengan momentum. Isaac Newton mengatakan "momentum sebagai kuantitas gerak". Hukum II Newton menyatakan bahwa, perubahan momentum benda tiap satuan waktu sebanding dengan gaya resultan yang bekerja pada benda dan berarah sama dengan gaya arah gaya tersebut. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
F = dp/dt = d(mv)/dt = m dv/dt = ma
Terlihat dari persamaan diatas bahwa hukum II Newton berhubungan dengan momentum.
2. Impuls
Benda yang diam dapat bergerak dengan adanya gaya yang bekerja pada benda selama waktu tertentu. Gaya yang bekerja selama waktu tertentu untuk menggerakkan benda disebut dengan impuls. Secara matematis dituliskan:
I = F . Δt
Keterangan:
I = impuls (kgm/s)
F = gaya (N)
Δt = waktu (s)
3. Hukum Kekekalan Momentum
Konsep momentum merupakan konsep fisika yang sangat penting di dalam berbagai sistem dengan syarat tertentu berlaku hukum kekekalan momentum.Untuk membuktikannya perhatikan gambar berikut ini.
Dua buah bola saling bergerak berlawanan arah dengan kecepatan masing-masing v1 dan v2 dan massanya masing-masing m1 dan m2. Benda kemudian bertumbukan, pada saat tumbukan benda 2 akan mendapatkan gaya dari benda 1 yang besarnya dapat dituliskan sesuai dengan hukum II Newton tentang gerak sebagai berikut.
FΔt = ΔP2
Menurut hukum III Newton tentang gerak benda pertama
akan mendapatkan gaya reaksi dari benda kedua dengan besar yang sama tetapi dengan arah yang berlawanan.
-FΔt = ΔP2
Jika kedua persamaan tersebut dijumlahkan akan
diperoleh:
M1V1 + M2V2
= M2V2 ' – M1V1'
Ruas sebelah kiri persamaan merupakan jumlah momentum
sebelum tumbukan dan ruas kanan merupakan jumlah momentum setelah tumbukan. Jadi, Momentum total sebelum tumbukan sama dengan momentum total setelah
tumbukan atau dikatakan berlaku hukum kekekalan momentum pada peristiwa
tumbukan.
TUMBUKAN
Tumbukan terbagi menjadi tiga yaitu, Tumbukan lenting, Tumbukan lenting sebagian, dan Tumbukan tak lenting.
1. Tumbukan Lenting
Tumbukan lenting sempurna terjadi jika jumlah energi kinetik kedua benda sebelum dan setelah tumbukan adalah sama.
a. Hukum kekekalan energi kinetik
EK1 + EK2 = EK1' + EK2'
½ m1v12 + ½ m2v22 = ½ m1v1'2+ ½ m2v2'2
b. Hukum kekekalan momentum
P1 + P2 = P1' + P2'
m1v1 + m2v2 = m1v1'+ m2v22
c. Koefisien restitusi sama dengan satu
e = - (v1' - v2')/v1 - v2 = 1
2. Tumbukan Lenting Sebagian
Benda yang melakukan tumbukan lenting sebagian, beberapa energi kinetiknya akan berubah menjadi energi bentuk lain seperti bunyi, panas, dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan energi kinetik sebelum tumbukan lebih besar dari energi kinetik setelah tumbukan (ΣEK > ΣEK'). Sehingga kekekalan energi kinetik tidak berlaku pada tumbukan lenting sebagian. Oleh karena itu koefisien restitusi pada tumbukan lenting sebagian mempunyai nilai 0 sampai 1 persamaannya dapat ditulis.
0 < e > 1
0 < - (v1' - v2')/v1
- v2 < 1
3. Tumbukan Tak Lenting
Referensi
Arifudin, M Achya. 2007. FISIKA. Jawa Barat: Ganeca Exact
Indrajit, Dudi. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Fisika. Bandung: PT. Grafindo Media Pratama
Kamajaya. 2008. Fisika. Bandung: PT. Grafindo Media Pratama
Muslihun. 2018. SMART BOOK FISIKA SMA. Jakarta: PT. Grasindo
Muslihun. 2017. SKM FISIKA. Jakarta: PT. Grasindo
Semangat kaka
BalasHapusTingkat kan lagi
BalasHapusSungguh rumit klo melihat rumus nya
BalasHapusThanks, ngebantu bgt!
BalasHapusSemangat ida, sudah bagus
BalasHapusDari segi materi, sudah disampaikan secara jelas ,rumus mudah d pahami.
BalasHapusUntuk penyampaian nya menggunakan bahasa yang mudah untuk kita memahaminya
Dari segi tampilan, beberapa rumus tidak dapat terlihat dengan jelas, karena warna kalimat dengan warna background kalimat tidak kontras, sulit untuk melihat.
Gambar juga terlalu kecil.
Kedepannya , diperkenankan untuk mencari gambar tema yang tidak menyulitkan, dan memperbesar ukuran gambar agar terlihat jelas.
Tapi untuk materi mudah dipahami.
Terima kasih atas komentarnya. Saya akan belajar lebih lagi dalam tampilan
HapusSemangat nulisnyaa...
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapus👍👍👍👍
BalasHapusMantap kaka
BalasHapusUntuk materi yang dipaparkan sudah cukup lengkap dan bahasanya mudah dipahami.
BalasHapusUntuk tampilan, saran saya bagian rumus mungkin bisa mengunakan satu warna saja agar tidak membingungkan karena hampir di setiap rumus yang dipaparkan memiliki warna yang berbeda-beda.
Untuk tampilan gambar mungkin bisa di rapikan lagi, karena beberapa ada yang terlalu besar dan tidak singkron. Saran saya selanjutnya untuk sub bab mungkin bisa dicetak tebal, dan bisa mengunakan satu warna saja, usahakan ukurannya lebih disingkronkan lagi ya😊
Selebihnya sudah sangat baik, semangat terus ya;)
Baik terima kasih atas komentarnya 🙏 akan saya perbaiki. Untuk rumus kemungkinan saya kasih warna berbeda agar lebih menarik dan untuk ukuran gambar sesuai ukuran yg ada dan akan saya usahakan untuk mencari ukuran yang sama🙏
HapusDari segi materi sudah bagus dan sangat jelas disampaikan.
BalasHapusNamun, ada sedikit tambahan buat Noorhalida.
Perhatikan lagi tanda baca untuk point nomor 1 yaitu pada bagian penjelasan simbol rumus. Seharusnya itu diberikan tanda titik dua(:).
Kemudian, pada bagian pernyataan hukum newton II itu sebaiknya diberi tanda kutip.
Pada poin nomor dua sebaiknya diberikan tanda titik(.) diantara waktu tertentu dan gaya.
Selanjutnya diperbaiki lagi penggunaan huruf kapitalnya. Seharusnya huruf kapital digunakan setelah tanda titik dan awal kalimat bukan setelah koma.
Tetap semangat menulisnya, semoga masukan yang diberikan bermanfaat. Sekian terima kasih
Baik terima kasih atas komentarnya 🙏 saya akan segera memperbaiki nya.
HapusSemangat lida
BalasHapusUntuk materi rumus dan juga semua yang disajikan di blog ini sudah bagus akan tetapi mungkin dibuat lebih menarik lagi di bagian ppt-nya ataupun bagian gambar-gambar yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada di blog ini.
BalasHapus